Berita  

Di Tengah Kota Kupang, Petani Bertahan Kelola Sawah, Jadi Ruang Edukasi Warga

KupangInfoBerantasNews.com —Di tengah pesatnya pembangunan di Kupang, keberadaan lahan pertanian semakin terdesak. Namun, seorang petani lanjut usia tetap bertahan mengelola sawahnya di tengah kota. Ia adalah Dimus Tine (74), warga Kelurahan Oebufu.

Di atas lahan seluas 60 are, Dimus menanam padi dan mengelola sawahnya secara mandiri. Meski usia tidak lagi muda, ia tetap aktif bekerja mulai dari pengolahan tanah hingga perawatan tanaman.

Dimus mengungkapkan, hasil panen sangat bergantung pada perawatan.

“Kalau dikelola dengan baik, hasil bisa sampai 500 karung dalam satu kali musim tanam. Tapi kalau kurang perawatan, bisa turun jadi sekitar 200 karung,” ujarnya.

Ia juga mengandalkan pupuk NPK untuk menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman padi.

Tak hanya sebagai sumber pangan, sawah milik Dimus juga menjadi ruang interaksi warga. Pondok sederhana di tengah sawah kerap didatangi masyarakat yang ingin menikmati suasana hijau di tengah kota.

“Setiap hari ada yang datang, ada yang sekadar duduk, ada juga anak sekolah yang belajar tentang padi dan tanaman di sini,” katanya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan pertanian di perkotaan masih memiliki fungsi penting, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan ruang terbuka bagi masyarakat.

Kaperwil NTT Bergita Abi yang turut mengunjungi lokasi tersebut mengapresiasi semangat Dimus.

“Di usia 74 tahun, beliau masih aktif bekerja dan memberi manfaat. Ini menjadi contoh bahwa usia bukan halangan untuk tetap produktif,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan sawah di tengah kota juga memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan lokal serta menjadi media pembelajaran bagi generasi muda.

Di tengah tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan, keberadaan sawah seperti ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.

“Yang penting kita tetap kerja dan memberi manfaat,” kata Dimus menutup perbincangan.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *