SOPPENG-InfoberantasNews.com – Merosotnya harga kopra basah di tingkat petani bukan lagi sekadar dinamika pasar biasa. Kondisi ini kini telah menjadi alarm keras yang menandakan adanya gangguan serius pada sendi-sendi ekonomi pedesaan. Ketika komoditas yang menjadi tulang punggung kehidupan ribuan keluarga mengalami gejolak negatif, maka stabilitas ekonomi desa pun ikut terguncang.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga jual kopra basah dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Di tengah biaya produksi dan kebutuhan hidup yang terus merangkak naik, turunnya harga komoditas ini membuat posisi petani semakin terhimpit dan sulit bernapas.
Menyikapi kondisi yang memprihatinkan tersebut, Divisi Hukum dan Investigasi LSM GARDA 08 Sulawesi Selatan turut angkat suara. Mereka menilai bahwa persoalan ini harus menjadi perhatian darurat bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kebijakan.
Ketika harga kopra anjlok, yang paling pertama dan paling berat merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil di desa. Padahal, sektor ini adalah penopang utama roda ekonomi masyarakat pedesaan. Jika mereka kesulitan, maka seluruh aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput akan ikut melambat,” ujar Koordinator Divisi Hukum dan Investigasi LSM GARDA 08 Sulsel, Juansyah, S.H.
Menurut Juansyah, kehadiran negara dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini. Pemerintah tidak bisa bersikap pasif dan membiarkan mekanisme pasar bekerja seenaknya tanpa adanya perlindungan terhadap produsen kecil.
Diperlukan langkah-langkah strategis mulai dari pemantauan harga, evaluasi rantai distribusi, hingga upaya memperkuat posisi tawar petani agar tidak terus-menerus berada di pihak yang lemah dan dirugikan.
Kita tidak boleh membiarkan petani terus-menerus menjadi korban ketidakadilan ekonomi. Mereka bekerja keras mengolah tanah, maka sudah sepatutnya mereka mendapatkan harga yang layak dan perlindungan yang nyata,” tegasnya.
LSM GARDA 08 menegaskan, keberhasilan pembangunan daerah tidak akan memiliki makna apa-apa jika di sisi lain masyarakat masih menjerit kesusahan akibat harga hasil panen yang tidak menentu.
Anjloknya harga kopra adalah pengingat bahwa ketahanan ekonomi desa harus terus dijaga. Selama rakyat masih merasakan tekanan ekonomi yang berat, maka tugas pemerintah untuk hadir dan melindungi belum selesai,” pungkas Juansyah.
@Red












